Tips dan Trik Menulis Skrip Dari Linda Seger

Telinga kita mungkin asing mendengar nama Linda Seger. Namun tidak demikian dengan dunia perfilman Internasional. Linda telah menjadi konsultan skrip film sejak tahun 1981. Tak kurang dari sekitar 2000 skrip telah dikonsultasikan padanya, termasuk 40 proyek produksi feature film dan 20 proyek produksi TV. Linda juga telah mempunyai banyak pengalaman menjadi pembicara pada lebih dari 20 negara di dunia.

Salah satu dari 9 buku yang telah ditulisnya yaitu Making A Good Script Great, menjadi panduan dari jutaan penulis skrip di dunia. Naning Koesnadi beruntung mendapatkan kesempatan mewawancarai Linda Seger dan mengorek bisnis penulisan skrip di Hollywood. Berikut petikan wawancara tersebut.

Berapa lama menurut anda, sebuah skrip yang baik harus dibuat?

Tergantung dari penulisnya. Tapi kebanyakan penulis membutuhkan waktu sekitar 1 tahun untuk membuat skrip yang baik. Ada yang membuat pra-skrip selama 3 bulan kemudian menulisnya kembali selama 9 bulan. Tapi ada juga yang menulis hingga bertahun-tahun. Jadi semuanya tergantung dari proses kreatif dari si penulis itu sendiri. Umumnya agak sulit jika membuat skrip kurang dari 3-6 bulan.

Karena biasanya harus melakukan riset lebih dulu. Pastinya, tidak mungkin sampai 6 tahun kalau anda benar-benar mengerjakannya, dan tidak mungkin menulisnya dalam waktu 2 minggu. Tergantung juga pada berapa lama riset yang dilakukan, dan seberapa jauh dan kesulitan mengenai topik yang akan diangkat.

Anda bilang kan tidak ada pola tertentu untuk membuat skrip? Benarkah?

Ya, memang tidak ada pola tertentu karena ini adalah seni. Tapi kalau membicarakan pola, maka menurut saya pola adalah tentang prinsip, konsep, ide yang harus diikuti. Tapi ini tetap sebuah proses kreatif. Dan setiap orang harus mengetahui prosesnya sendiri. Dan setiap bentuk tulisan baik itu novel, film pendek, skrip, cerita televisi, setiap bentuk tulisan berbeda bagaimana penceritaannya. Yang penting mengetahui bagaimana bercerita. Membuat tulisan untuk film pendek pasti berbeda dengan membuat skrip untuk mini seri. Setiap bentuk memunyai perbedaan?

Menurut anda apakah semua orang bisa menulis skrip?

Tidak, saya tidak percaya semua orang bisa menulis skrip film. Dibutuhkan talenta yang baik untuk menulis skrip yang baik. Artinya dibutuhkan rasa seni sense of art yang baik artinya dia harus lah seorang seniman. Scriptwriting adalah gabungan adanya art yaitu creative voice dari si artist, craft yaitu pengetahuan tentang bagaimana penulisan skrip berbeda antara novel, skrip film atau dengan bentuk tulisan lainnya, dan creativity yaitu bisakah tulisan dibuat dengan kreatif. Tidak semua orang memunyai disiplin, visi artistik, ide-ide, dan craft. Ada juga yang bilang mereka mengalami creativity blocked. Banyak orang yang memunyai kesulitan untuk menjadi kreatif. Jadi banyak hal yang harus dimiliki oleh seorang penulis skrip film yang baik.


Wartawan dan novelis juga seorang penulis, lalu apa bedanya dengan penulis skrip film?

Ya, wartawan harus lah seorang interviewer yang baik dan menulis hal-hal non-fiksi. Penulis skrip film kebalikannya, mereka menulis hal-hal fiksi. Untuk menjadi screenwriters,
anda harus memiliki visualcept. Karena sebagai penulis anda melukis dunia dalam kata-kata. Anda harus punya sense of character yang kuat, dalam arti harus bisa membuat sebuah karakter bisa dimainkan dan tampak nyata. Kita harus bisa membuat sebuah cerita dalam durasi waktu tertentu.

Kalau novelis bisa membuat tulisan sampai 600 bahkan lebih halaman, maka scriptwriter harus membuat hanya sekitar 120 halaman dengan komposisi awalan, tengah dan akhiran dari sebuah cerita yang mempunyai visual, relasi dan karakter. Tidak semua orang bisa melaqkukannya. Saya misalnya menulis buku. Buku saya adalah bentuk seni saya. Saya tidak bisa membuat skrip, tapi saya bisa tahu bagaimana membuat skrip yang bagus. Saya senang menjelaskan dan bisa membantu orang menjadi seorang penulis skrip yang bagus.

Apakah seorang penulis skrip harus masuk sekolah film dulu?

Banyak penulis mempunyai latar belakang berbeda. Ada yang sekolah, ada yang memang langsung bisa menulis, ada juga yang dari penulis novel. Ada hal-hal yang harus dipelajari sebelum membuat skrip film. Kalau orang hanya sekolah saja, dia tidak memunyai kesempatan untuk mempaktekkan ilmu yang dimilikinya. Ada garis tipis, antara keharusan belajar untuk membuat skrip dengan keharusan membuat skrip lalu mempelajarinya sehingga bisa membuat skrip yang baik.

Ada banyak istilah dalam soal naskah film. Ada scriptwriting, dan screenplay. Ada bedanya tidak?

Sebenarnya sama saja. Intinya membuat skrip yang digunakan untuk membuat film, bukan untuk dibaca.

Dalam penulisan skrip, haruskah penulis melukiskan situasi di skrip?

Secara detil ya, penulis perlu memberikan deskripsi situasi, tapi tidak sebanyak
seorang sutradara melakukannya.

Jadi suksesnya sebuah script juga bergantung pada sinematographer dan sutradara?

Ya, tentu saja penulis harus tetap membuat cetak birunya. Lalu sutradara, sinematographer dan aktor yang akan membuatnya jadi nyata. Penulis skrip yang memberi petunjuknya. Makanya penulis harus berorientasi pada visual dan mengetahui
bahasa film. Saya sendiri datang dari teater. Saya berteater juga, tapi biasanya saya menyutradarai teater. Ketika pindah dari teater ke film, saya ambil kursus menjadi sutradara bukan karena saya ingin menjadi sutradara film atau TV. Saya mengambilnya agar bisa memahami pola dan bagaimana membuat scene yang baik dan visi seorang sutradara, Dan itu berguna sekali bagi saya memberikan konsultasi dan menulis buku saya.

Ada bedanyakah penulisan skrip untuk film dan TV?

Ya, sepertinya bentuknya memang sama, tapi kalau diperhatikan ada perbedaannya. Perbedaan kecilnya yaitu di detail. Orang yang tahu bentuk penulisan skrip, pasti akan langsung tahu perbedaannya.

Menulis skrip kan sebuah bisnis, apa pendapat anda tentang adanya penulis yang menulis hanya untuk memenuhi tenggat waktu?

Ya ini memang sebuah seni dan ini adalah showbusiness. Di Amerika, biasanya penulis tidak memunyai tenggat waktu. Mereka punya waktu rata-rata dalam menulis sebuah skrip. Penulis biasanya menulis dulu, baru kemudian ditawarkan. Penulis juga harus punya perkiraan berapa lama dia bisa menulis sebuah assignment.

bilamana anda bisa menentukan bagian-bagiannya berdasarkan jenis film?

Umumnya setiap jenis film memunyai struktur yang sama. Selalu ada awalan, tengah dan akhiran atau sering disebut three-act structure. Tidak terlalu berhubungan dengan jenis filmnya. Tentu saja komedi harus kocak, thriller harus menegangkan dan pada film adventurous harus banyak aksinya. Tapi umumnya berstruktur sama, dengan detail yang berbeda, tergantung pada storylinenya. Casingnya saja yang berbeda. Basic storyline yang penting. Dimanapun, penonton tetap menginginkan adanya hubungan dengan cerita dalam film yang ditontonnya. Misalnya saja, saya pernah menemukan storyline dari Singapura yang sangat berbeda dengan yang biasa ditemukan di film-film Hollywood. Namun stukturnya tetap sama, ada three-act structure, ada karakter, ada scenery dan element lainnya. Sebagian tentu saja karena perbedaan budaya dan cerita. Ada juga film yang berstruktur berbeda, nine-act structure atau four-act structure dan sebagainya, tapi saya menganggap bahwa struktur itu tetap memunyai basic three-act strucure. Mereka hanya mem-breakdown-nya menjadi struktur yang berbeda. Namun secara umum, tetap three-act structure.

Hollywood film selalu laku di pasaran, apa yang membuatnya demikian?

Hollywood film selalu memunyai script yang jelas. Diakui, kadang tidak terlalu halus dan artistik, namun kita bisa menonton dan mengerti film tersebut walaupun kita tidak mengetahui bahasanya. Beberapa film dari negeri lain kadang tidak terlalu bisa dimengerti. Konteksnya tidak terlalu jelas, sehingga penonton kehilangan kejelasan. Hollywood Movie pada umumnya menggunakan three-act structure sehingga ceritanya jelas. Masalah pada film Hollywood biasanya terletak pada kedalaman motif dan tema.

Anda pernah menonton film Indonesia?

Sayangnyatidak. Saya pernah menonton film dari negara asia lain, seperti Jepang, Cina, tapi saya sampai sekarang belum terpikir. Hanya saya mau memberi masukan, jangan kompromikan budaya anda. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana membuat awalan, tengah dan akhiran yang baik serta kejelasan. Karena dengan begitu, dunia bisa melihat Indonesia melalui layar dan tertarik. Bawa budaya anda ke layar. Kita perlu melihat film bagus dari berbagai negara dan film adalah media yang baik untuk berbagi perspektif yang berbeda.


Dari pengalaman anda, berapa persen sebuah script berubah dalam proses produksi?

Semua tergantung pada saat proses penulisan ulang skrip. Saya yakin skrip pasti akan berubah. Namun sebagai penulis, kita tidak akan mau perubahan drastis. Paling hanya sekitar 5% perubahan pada skrip. Belum lagi adanya pemotongan di meja editing. Makanya sebelum eksekusi kita akan berdiskusi terlebih dahulu apakah sebuah scene perlu diambil atau tidak. Produser juga tidak mau kehilangan banyak dana untuk itu.

Ada banyak software untuk membuat sebuah script. Apa yang anda rekomendasikan?

Hati-hati terhadap penggunaan sebuah software. Karena ini adalah proses kreatif, ini bukan seperti mengisi soal titik-titik kosong. Untuk beberapa orang, software ini memang menolong. Namun tetap harus hati-hati menggunakannya, jangan sampai terjebak membuat sebuah pola yang selalu sama. Karena ini sebuah proses kreatifitas.

Berapa lama biasanya sebuah skrip dikonsultasikan kepada anda?

Sekitar 2-3 minggu saya akan mengembalikan kepada penulis. Namun semua juga tergantung pada jasa macam apa yang diminta. Apakah di proses penulisan awal, atau pada proses yang sudah akan mulai pada proses produksi. Biasanya saya akan lebih
mementingkan detil pada jasa yang kedua.

Masalah apa biasanya yang terjadi saat skrip film?

Umumnya masalahnya adalah struktur. Orang kebanyakan tidak mengetahui three-act structure. Masalah yang umum ditemui adalah kesulitan untuk membangun sebuah cerita. Ada yang menjadi seuah cerita yang membosankan. Namun yang yang penting adalah orisinalitas. Jangan meniru yang sudah pernah ada. Kita perlu kreatif, tapi jangan sampai juga terlalu orisinil sehingga membuat orang tidak mengerti apa yang akan diceritakan dan tidak universal.

Mana yang lebih penting, mempertahankan apa yang ada di dalam imajinasi penulis, atau visi dari sutradara?

Dalam sebuah film, sutradara adalah arsiteknya, sementara penulis adalah pembuat cetak biru dari rancangan bangunan. Detil tetap ada di tangan sutradara. Penulis hanya bisa memberikan garis besar ceritanya, dan sutradara harus mengikuti cetak birunya. Biasanya, penulis bisa ada di lokasi dan merubah sedikit perubahan. Ada sutradara yang membuat sebuah skrip tambah baik, ada juga yang membuatnya menjadi buruk.

Seberapa jauh, seorang penulis memegang peranan atas baik atau buruknya sebuah film?

Sebuah film yang bagus pasti tidak mungkin berasal dari skrip yang buruk. Saya bilang 90% skrip yang baik pasti menghasilkan film yang baik. Namun memang ada sutradara
yang menghancurkan sebuah skrip yang baik. Jadi harus match antara penulis dan sutradara yang baik. Namun semua memang harus dimulai dari skrip yang baik.

Di Hollywood, apakah penulis skrip berhak memilih sutradaranya?

Tidak. Produser dan sutradara lah yang memilih penulis. Tergantung siapa yang membeli skrip. Biasanya produser yang membeli skrip lalu memilih sutradara dan penulisnya, tapi bisa juga sutradara membeli skrip kemudian mencari produser untuk membiayai filmnya. Terkadang sutradara adalah produser juga, tapi ada juga produser yang juga penulis skripnya, seperti Quentin Tarantino. Umumnya, produser, studio yang menyewa sutradara dan penulis. Penulis tidak memunyai kekuatan besar di industri film Hollywood.

Berapa sih harga sebuah skrip yang baik?

Bisa berkisar antara 50.000 – 100.000 dollar. Tapi ada juga yang sampai 1 juta- 4 juta dollar. Penulis skrip Basic Instinc bahkan mendapatkan lebih dari 4 juta dollar, tapi setelah itu ia tidak lagi menulis skrip yang bagus, dan namanya menghilang. Kalau penulis terkenal dan sukses, rata-rata sekitar 100.000-500.000 dollar.

Penulis mendapatkan royalti tidak dari tulisannya?

Ya, biasanya dapat persentasi dari profit. Tapi itu didapatkan setelah film mendapatkan profit. Di Hollywood juga ada istilah system creative accounting. Artinya, penulis tidak mendapatkan apapun berapapun profit yang dihasilkan dari film. Ini sebuah bisnis, tergantung pada perjanjian di awal. Namun umumnya, penulis mendapatkan 0,5%-1% dari keuntungan sebuah film. Jadi kalau filmnya sukses, dia bisa mendapatkan gaji yang lumayan dari persentasi keuntungan tersebut.

Terakhir, sebagai script consultant. Adakah trik khusus untuk menjadi penulis skrip yang baik?

Penulis skrip yang baik harus memunyai modal disiplin menulis yang baik. Yang baik, penulis harus menulis setiap hari entah itu 2 jam, 5 jam atau 7 jam. Harus punya kreatifitas yang baik, ide, tahu struktur, harus tahu bagaimana membangun dimensi karakter, membangun tema, pengetahuan yang luas, pemberi solusi yang baik, punya orisinalitas. Intinya, penulis haruslah seorang yang memunyai art, craft, creativity. Semua harus seimbang dan mau belajar. Penulis datang ke saya sebagai konsultan untuk menyeimbangkan itu semua. Seorang konsultan seperti saya harus menjadi teman penulis, namun tetap obyektif. Konsultan skrip harus bisa memberikan bantuan jasa dalam proses kreatifnya.





Tahap- tahap roduksi Film

Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai.
Mengembangkan naskah ke dalam program video siap pakai melalui tahapan-tahapannya : Tahap Pra Produksi, Tahap Produksi, Tahap Pasca Produksi

Dalam produksi film sangat erat kaitannya dengan kerabat kerja atau tim atau crue pelaksana pembuatan film dan deskripsi kerjanya masing-masing. Adapun tim tersebut dapat terdiri atas :
 Sutradara (Director), Bertugas memimpin dan mengarahkan keseluruhan proses pembuatan film.
 Ide cerita, Pencetus atau pemilik ide cerita pada naskah film yang diproduksi.
 Penulis skenario/Script Writer, Bertugas menterjemahkan ide cerita ke dalam bahasa visual gambar atau skenario.
 Kameramen, Bertugas mengambil gambar atau mengoperasikan kamera saat shooting.
 Tata cahaya (lighting), Bertugas mengatur pencahayan dalam produksi film.
 Tata musik (music director), Bertugas membuat atau memilih musik yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
 Tata kostum (costume designer), Bertugas membuat atau memilih dan menyediakan kostum atau pakaian yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
 Tata Rias (Make up Artist), Bertugas mengatur make up yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
 Tata suara dan sound effect (sound recorder), Bertugas membuat atau memilih atau merekam suara dan efek suara yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
 Tata artistik (artistic director), Bertugas membuat dan mengatur latar dan setting yang sesuai dengan nuansa cerita dalam produksi film.
 Editor, Bertugas melakukan editing pada hasil pengambilan gambar dalam produksi film.
 Kliper, Bertugas memberi tanda pengambilan shot dalam produksi film.
 Pencatat adegan, Bertugas mencatat adegan atau shot yang diambil serta kostum yang dipakai dalam produksi film.
 Casting, Bertugas mencari dan memilih pemain yang sesuai ide cerita dalam produksi film.

TAHAP PRA PRODUKSI

ANALISIS IDE CERITA.
Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Jika tujuan telah ditentukan maka semua detail cerita dan pembuatan film akan terlihat dan lebih mudah. Jika perlu diadakan observasi dan pengumpulan data dan faktanya. Bisa dengan membaca buku, artikel atau bertanya langsung kepada sumbernya.

Ide film dapat diperoleh dari berbagai macam sumber antara lain:

  • Pengalaman pribadi penulis yang menghebohkan.
  • Percakapan atau aktifitas sehari-hari yang menarik untuk difilmkan.
  • Cerita rakyat atau dongeng.
  • Biografi seorang terkenal atau berjasa.
  • Adaptasi dari cerita di komik, cerpen, atau novel.
  • Dari kajian musik, dll
MENYIAPKAN NASKAH
Jika penulis naskah sulit mengarang suatu cerita, maka dapat mengambil cerita dari cerpen, novel ataupun film yang sudah ada dengan diberi adaptasi yang lain. Setelah naskah disusun maka perlu diadakan Breakdown naskah. Breakdown naskah dilakukan untuk mempelajari rincian cerita yang akan dibuat film.

MENYUSUN JADWAL DAN BUDGETING
Jadwal atau working schedule disusun secara rinci dan detail, kapan, siapa saja , biaya dan peralatan apa saja yang diperlukan, dimana serta batas waktunya. Termasuk jadwal pengambilan gambar juga, scene dan shot keberapa yang harus diambil kapan dan dimana serta artisnya siapa. Lokasi sangat menentukan jadwal pengambilan gambar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyusun alokasi biaya:

  • Penggandaan naskah skenario film untuk kru dan pemain.
  • Penyediaan kaset video.
  • Penyediaan CD blank sejumlah yang diinginkan.
  • Penyediaan property, kostum, make-up.
  • Honor untuk pemain, konsumsi.
  • Akomodasi dan transportasi.
  • Menyewa alat jika tidak tersedia.
HUNTING LOKASI
Memilih dan mencari lokasi/setting pengambilan gambar sesuai naskah. Untuk pengambilan gambar di tempat umum biasanya memerlukan surat ijin tertentu. Akan sangat mengganggu jalannya shooting jika tiba-tiba diusir dipertengahan pengambilan gambar karena tidak memiliki ijin (dan saya mengalaminya.. hehe).
Dalam hunting lokasi perlu diperhatikan berbagai resiko seperti akomodasi, transportasi, keamanan saat shooting, tersedianya sumber listrik, dll. Setting yang telah ditentukan skenario harus betul-betul layak dan tidak menyulitkan pada saat produksi. Jika biaya produksi kecil, maka tidak perlu tempat yang jauh dan memakan banyak biaya.

MENYIAPKAN KOSTUM DAN PROPERTY.
Memilih dan mencari pakaian yang akan dikenakan tokoh cerita beserta propertinya. Kostum dapat diperoleh dengan mendatangkan desainer khusus ataupun cukup membeli atau menyewa namun disesuaikan dengan cerita skenario. Kelengkapan produksi menjadi tanggung jawab tim property dan artistik.

MENYIAPKAN PERALATAN
Untuk mendapatkan hasil film/video yang baik maka diperlukan peralatan yang lengkap dan berkualitas. Peralatan yang diperlukan (dalam film minimalis) :

  • Clipboard.
  • Proyektor.
  • Lampu.
  • Kabel Roll.
  • TV Monitor.
  • Kamera video S-VHS atau Handycam.
  • Pita/Tape.
  • Mikrophone clip-on wireless.
  • Tripod Kamera.
  • Tripod Lampu.
CASTING PEMAIN
Memilih dan mencari pemain yang memerankan tokoh dalam cerita film. Dapat dipilih langsung ataupun dicasting terlebih dahulu. Casting dapat diumumkan secara luas atau cukup diberitahu lewat rekan-rekan saja. Pemilihan pemain selain diperhatikan dari segi kemampuannya juga dari segi budget/pembiayaan yang dimiliki.

TAHAP PRODUKSI

TATA SETTING
Set construction merupakan bagunan latar belakang untuk keperluan pengambilan gambar. Setting tidak selalu berbentuk bangunan dekorasi tetapi lebih menekankan bagaimana membuat suasana ruang mendukung dan mempertegas latar peristiwa sehingga mengantarkan alur cerita secara menarik.

TATA SUARA
Untuk menghasilkan suara yang baik maka diperlukan jenis mikrofon yang tepat dan berkualitas. Jenis mirofon yang digunakan adalah yang mudah dibawa, peka terhadap sumber suara, dan mampu meredam noise (gangguan suara) di dalam dan di luar ruangan.

TATA CAHAYA
Penataan cahaya dalam produksi film sangat menentukan bagus tidaknya keualitas teknik film tersebut. Seperti fotografi, film juga dapat diibaratkan melukis dengan menggunakan cahaya. Jika tidak ada cahaya sedikitpun maka kamera tidak akan dapat merekam objek.

Penataan cahaya dengan menggunakan kamera video cukup memperhatikan perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast. Sebagai contoh jika pengambilan gambar dengan latar belakang lebih terang dibandingkan dengan artist yang sedang melakukan acting, kita dapat gunakan reflektor untuk menambah cahaya.

Reflektor dapat dibuat sendiri dengan menggunakan styrofoam atau aluminium foil yang ditempelkan di karton tebal atau triplek, dan ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan.

Perlu diperhatikan karakteristik tata cahaya dalam kaitannya dengan kamera yang digunakan. Lebih baik sesuai ketentuan buku petunjuk kamera minimal lighting yang disarankan. Jika melebihi batasan atau dipaksakan maka gambar akan terihat seperti pecah dan tampak titik-titik yang menandakan cahaya under.
Perlu diperhatikan juga tentang standart warna pencahayaan film yang dibuat yang disebut white balance. Disebut white balance karena memang untuk mencari standar warna putih di dalam atau di luar ruangan, karena warna putih mengandung semua unsur warna cahaya.

TATA KOSTUM (WARDROBE)
Pakaian yang dikenakan pemain disesuaikan dengan isi cerita. Pengambilan gambar dapat dilakukan tidak sesuai nomor urut adegan, dapat meloncat dari scene satu ke yang lain. Hal ini dilakukan agar lebih mudah, yaitu dengan mengambil seluruh shot yang terjadi pada lokasi yang sama. Oleh karenanya sangat erlu mengidentifikasi kostum pemain. Jangan sampai adegan yang terjadi berurutan mengalami pergantian kostum. Untuk mengantisipasinya maka sebelum pengambilan gambar dimulai para pemain difoto dengan kamera digital terlebih dahulu atau dicatat kostum apa yang dipakai. Tatanan rambut, riasan, kostum dan asesoris yang dikenakan dapat dilihat pada hasil foto dan berguna untuk shot selanjutnya.

TATA RIAS
Tata rias pada produksi film berpatokan pada skenario. Tidak hanya pada wajah tetapi juga pada seluruh anggota badan. Tidak membuat untuk lebih cantik atau tampan tetapi lebih ditekankan pada karakter tokoh. Jadi unsur manipulasi sangat berperan pada teknik tata rias, disesuaikan pula bagaimana efeknya pada saat pengambilan gambar dengan kamera. Membuat tampak tua, tampak sakit, tampak jahat/baik, dll.

TAHAP PASCA PRODUKSI

PROSES EDITING
Secara sederhana, proses editing merupakan usaha merapikan dan membuat sebuah tayangan film menjadi lebih berguna dan enak ditonton. Dalam kegiatan ini seorang editor akan merekonstruksi potongan-potongan gambar yang diambil oleh juru kamera.
Tugas editor antara lain sebagai berikut:

  • Menganalisis skenario bersama sutradara dan juru kamera mengenai kontruksi dramatinya.
  • Melakukan pemilihan shot yang terpakai (OK) dan yang tidak (NG) sesuai shooting report.
  • Menyiapkan bahan gambar dan menyusun daftar gambar yang memerlukan efek suara.
  • Berkonsultasi dengan sutradara atas hasil editingnya.
  • Bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan semua materi gambar dan suara yang diserahkan kepadanya untuk keperluan editing.
REVIEW HASIL EDITING
Setelah film selesai diproduksi maka kegiatan selanjutnya adalah pemutaran film tersebut secara intern. Alat untuk pemutaran film dapat bermacam-macam, dapat menggunakan VCD/DVD player dengan monitor TV, ataupun dengan PC (CD-ROM) yang diproyeksikan dengan menggunakan LCD (Light Computer Display). Pemutaran intern ini berguna untuk review hasil editing. Jika ternyata terdapat kekurangan atau penyimpangan dari skenario maka dapat segera diperbaiki. Bagaimanapun juga editor juga manusia biasa yang pasti tidak luput dari kelalaian. Maka kegiatan review ini sangat membantu tercapainya kesempurnaan hasil akhir suatu film.

PRESENTASI DAN EVALUASI
Setelah pemutaran film secara intern dan hasilnya dirasa telah menarik dan sesuai dengan gambaran skenario, maka film dievaluasi bersama-sama dengan kalangan yang lebih luas. Kegiatan evaluasi ini dapat melibatkan :

  • Ahli Sinematografi.
  • Untuk mengupas film dari segi atau unsur dramatikalnya.
  • Ahli Produksi Film.
  • Untuk mengupas film dari segi teknik, baik pengambilan gambar, angle, teknik lighting, dll.
  • Ahli Editing Film (Editor).
  • Untuk mengupas dari segi teknik editingnya.
  • Penonton/penikmat film.
  • Penonton biasanya dapat lebih kritis dari para ahli atau pekerja film. Hal ini dikarenakan mereka mengupas dari sudut pandang seorang penikmat film yang mungkin masih awam dalam pembuatan film.

Silahkan Membaca

  • Baksin, Askurifai. 2003. Membuat Film Indie itu Gampang. Bandung: Katarsis.
  • Effendy, Heru. 2002. Mari Membuat Film: Panduan Menjadi Produser. Yogyakarta: Konfiden
  • Honthaner, Eve Ligth. 2000. The Complete Film Production Handbook. Los Angeles: Lone Eagle Publishing.
  • Sani, Asrul. 1986. Cara Menilai Sebuah Film. Jakarta: Yayasan Citra.
  • Subroto, Darwanto Sastro. 1994. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana UniPress.
  • Widagdo, M Bayu & Gora S, Winastwan. 2004. Bikin Sendiri Film Kamu (Panduan Produksi Film Indonesia). Yogyakarta: PD. Anindya.